“Allah Ada Di Mana-mana”; Hukum Mengucapkannya

Tak jarang kita mendengar orang yang dengan enteng dan tanpa pikir panjang mengatakan Allah ada di mana-mana. Ucapan ini cukup sering kita dengar dari teman atau orang lain melalui pembicaraan sehari-hari atau lewat TV. Meski tidak menggunakan kata “Allah” kadang juga menggunakan kata “Tuhan”.

Pertama, sebelum kita masuk pembahasan, Ahlusunah wal Jamaah meyakini bahwa Allah tidak bertempat. Sebab tidak ada sesuatu yang sama dengan Allah. Jika Allah bertempat berarti Allah sama dengan makhluk. Karena makhluk bertempat. Lebih detail tentang hal ini, kamu bisa membaca keterangan Dr. Ali Jum’ah di sini.

Berikutnya ketika kita mengerti dasar tadi, kita akan membahas bagaimana hukum mengatakan “Allah ada di mana-mana”.

Asal Muasal “Allah Ada Di Mana-mana”

Kala kita meneliti sejarah, sejak dulu sudah ada sekelompok orang yang meyakini bahwa zat Allah ada di mana-mana. Para ulama menyebut kelompok ini dengan sebutan “Jahmiyah”.

Jahmiyah adalah pengikut Jahm bin Safwan. Kelompok yang muncul kira-kira abad dua ini, memang terkenal dengan beberapa keyakinan sesat mereka. Seperti keyakinan surga dan neraka tidak kekal, manusia tidak mempunyai ikhtiar, dll.(1)

Tentang keyakinan sesat kelompok Jahmiyah yang menjadi fokus pembahasan kita sekarang, banyak ulama yang sudah membahasnya.

Salah satunya Imam al-Baihaqi. Beliau mengatakan bahwa keyaknan Jahmiyah ini batal. Adapun firman Allah yang artinya, “Allah bersama mu di mana pun kamu berada” (QS. al-Hadid [57]: 04), maksudnya adalah ilmu Allah selalu menyertai kita. (2)

Al-Hafiz Ibnu Kastir juga mengatakan bahwa, ulama semuanya sepakat menolak keyakinan sesat Jahmiyah. Meski berbeda penafsiran mengenai tafsiran ayat:

وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ ۖ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ

Tafsiran yang menjadi pilihan Ibnu Katsir adalah, “Semua yang ada di muka bumi dan langit beribadah dan mengesakan Allah. Mereka berdoa kepada Allah dengan penuh rasa harap. Semuanya melakukan hal itu kecual jin dan manusia yang kafir.”(3)

Dengan demikian, sudah jelas bahwa perkataan “Allah ada di mana-mana” salah.

Sebenarnya dengan kita meyakini bahwa Allah tidak bertempat, harusnya kita bisa langsung memiliki kesimpulan bahwa mengatakan Allah berada di mana-mana salah. Jangankan “di mana-mana”, hanya meyakini Allah bertempat, walau hanya satu tempat dan tidak di mana-mana, itu sudah salah.

Jadi, jangan salah paham ya.

Catatan Kaki

(1) Al-Farqu Bainal-Firaq, hlm. 185, (2) Al-Iktikad wal-Hidayah, hlm. 114, (3) Tafsir Ibni Katsir, juz 2, hlm.124.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *