Cara Islam Mendidik Anak Agar Menjadi Anak Saleh

Anak yang saleh adalah harapan setiap keluaraga muslim. Setidaknya, hal ini menjadi harapan karena dua alasan; alasan dunia dan alasan akhirat. Di dunia, anak yang saleh akan senantiasa berbuat baik kepada orang tuanya (birul-walidain). Sedang di akhirat, walau secara fisik anak dan orang tua sudah terpisah, tapi keduanya masih bisa terhubung lewat doa. Saat yang lain meninggal dan pahala mereka terputus, hanya ada tiga orang yang akan terus mengalir pahalanya.

Rasulullah pernah bersabda:

إذَا مَاتَ ابنُ آدم انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أو عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Ketika seorang itu meninggal, amalnya akan terputus. Hanya ada tiga amal yang tidak putus; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak salih yang mendoakan orang tuanya.” (HR. Muslim)

Tapi bagaimana sebenarnya cara mendidik anak agar menjadi anak yang saleh? Islam punya cara sendiri. Mendidik anak dalam Islam punya karakteristik sendiri. Akan kami kutip pandangan Habib Umar bin Hafiz terkait hal ini.

Mendidik Anak dalam Islam

Mendidik anak harus sejak dini. Ini adalah poin inti dari segala yang akan Habib Umar jelaskan dalam kitabnya, Shalahul-Usrah wa Daurul-Abawain fit-Tarbiyah. Menurut beliau, ada ikatan kuat antara keluarga dengan bagaimana pendidikan kepada anak dimulai. Ada hal yang lebih detail lagi untuk menjadi perhatian, agar anak menjadi anak yang saleh.

Ada empat fase yang harus menjadi perhatian yang nanti masing-masing fase akan memberi pengaruh pada pendidikan anak. Pertama, niat sejak awal menikah. Kedua, masa kehamilan. Ketiga, masa melahirkan dan pertumbuhan anak. Keempat, saat anak mulai masuk usia tamyiz.

Setiap naik ke satu fase, tantanganya akan lebih kuat dari pada di fase sebelumnya. Dan, bagaimana satu fase itu dilalui, akan berpengaruh pada fase berikutnya.

Niat Menikah

Setiap orang yang menikah pasti mempunyai alsan dan niat tersendiri. Seorang muslim dalam menikah, harus berniat dengan niatan yang baik dan semata-mata untuk mengarap ridha Allah. Juga untuk memenuhi firman Allah dalam surah ar-Rum ayat 21, bahwa manusia memang Alllah ciptakan secara berpsang-pasangan.

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”

Salah satu niat dalam menikah adalah untuk memperbanyak umat Nabi Muhamad. Beliau pernah bersabda:

تَزَوَّجُوا الوَدُودَ الوَلودَ ، فإني مُكَاثِرٌ بكم الأنبياءَ يومَ القيامةِ

 “Menikahlah dengan yang penyayang bisa punya anak banyak. Sebab, nanti di hari kiamat aku akan berbangga dengan banyaknya umat ku.”

Baca juga: Tiga Kitab Tentang Sex Education Ala Santri

Masa Kehamilan

Niat sudah tentu juga medasar dalam hal ini. Apa niat hamil dan kenapa mempunyai anak? Pertanyaan ini harus terjawab berdasarkan pada tuntunan syariat.

Juga perlu mendapat perhatian orang tua pada masa kehamilan adalah prilaku mereka, pembicaraan antara mereka berdua yang bisa didengar oleh si buah hati, jenis makanan, kehalalan, kesucian dan apa yang mereka konsumsi. Sebab itu semua bisa memberi pengaruh.

Masa Melahirkan

Ketika bayi lahir, orang tua laki-laki harus sigap untuk langsung mengazani sang bua hati di kuping kanan, dan membacakan iqamah di kuping yang kiri. Tujuannya adalah agar bayi langsung terhubung kepada Allah dan Rasul-Nya melewati azan dan iqamah.

Setelah itu, orang tua dapat memilihkan nama anak. Nama yang baik tentunya. Jangan terpaku pada nama yang terlihat keren, tapi ternyata yang mempunyai nama itu adalah orang fasik atau bahkan non-muslim. Hal yang bisa dilakukan oleh orang tua adalah dengan meniru nama nabi, sahabat, ulama, dan orang-orang saleh.

Berikutnya adalah tahnik. Ketika mentahnik, hendaknya orang tua membaca bismilah, menyebut nama Allah dan juga Rasul-nya. Doa baik dari orang tua menjadi penyempurna.

Tidak cukup sampai di sana, orang tua juga harus memerhatikan ASI. Bukan sekadar ASI iru sendiri, tapi bagaimana ibu memberikannya. Hendaknya ibu saat menyusui membaca bismilah, tidak menyibukan diri dengan hal-hal tidak baik, tidak membicarakakan keburukan orang lain (ghibah), dan adu domba satu sama lain (namimah).

Masa Tamyiz

Saat anak sudah mulai masuk usia tamyiz (salah satu tandanya sudah bisa membedakan arah barat dan timur, misalnya), maka sudah waktunya orang tua mengenalkan Allah kepada sang anak. Mengenalkan siapa yang menciptakan. Sedari kecik, saat anak sudah mulai berpikir, ia dikenalkan kepada satu zat yang menguasai alam semesta.

Dari segi akhlak, anak juga diajari adab makan dan minum. Seperti minum tidak boleh sambil berdiri. Makan harus dengan tangan kanan. Membaca bismilah, dll.

Masa Sekolah

Orang tua harus memilihkan sekolah yang baik. Yang bisa menggabungkan antara ilmu dan akhlak. Pada fase ini memang tanggung jawab sudah tidak hanya menjadi beban orang tua, tetapi juga guru. Namun orang tua juga tidak bole lepas pengawasan.

Itulah cara Islam mendidikn anak agar menjadi anak saleh. Tidak hanya serta merta tanggung jawab pada anak, tetapi juga pada orang tua. Jika anak tumbuh dewasa dan tidak mau mengikuti titah orang tuanya, maka hedaknya orang tua juga harus berpikir tentang dirinya sendiri. Apa tujuan awal menikah? Apakah sudah sesuai tuntunan Islam? Apakah tujuan mempunyai anak? Apa makanan yang dikonsumsi selama masa kehamilan? Apakah dasar-dasar akhlak sudah berusaha ditanamkan pada anak sejak usia dini? Itu semua harus jelas, agar tidak selalu anak yang menjadi objek kesalahan.

Semoga tulisan ini bisa menjadi inspirasi keluarga milenial dalam mendidik anak. Bagi kamu yang sedang mencari artikel seputar keluarga bisa berkunjung ke yofam.id. Di sana ada banyak artikel yang membahas parenting, finance, relationship, lifestyle dan psychology.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *