Catatan Tentang Pameran “Peninggalan Rasulullah” di Banyuates Sampang

  • Bagikan
Catatan Tentang Pameran Peninggalan Rasulullah di Banyuates Sampang
Catatan Tentang Pameran Peninggalan Rasulullah di Banyuates Sampang

Sebelum membaca tulisan ini, mohon letakkan ego terlebih dahulu. Simpan di bawah karpet. Mari kita sama-sama merenungkan beberapa hal.

Sedikit cerita, saat pertama kali saya melihat promosi yang di sana tertulis akan diadakan pameran “peninggalan Rasulullah,” saya mulai curiga dan mempertanyakan, apakah yang akan dipamerkan itu asli atau sekadar replika.
Hanya saya biarkan informasi itu lewat dan sudah tidak peduli lagi. Sesekali saya melihat salah satu teman WA yang memosting video sedang berada di pameran tersebut. Saya semakin heran. “Kok tidak ada penjagaan ketat ya? Ini kan peninggalan Rasulullah yang harus dijaga. Takut-takut ada yang mencuri, dll.”

Sampai suatu ketika, di salah satu grup yang saya ikuti, ada anggota grup yang membagikan screnshot percakapan – entah siapa dengan siapa – yang memberi jawaban atas pertanyaan saya saat pertama mengetahui pameran itu.

“Oh, hanya replika.”

Tentu saya tidak berpikir macam-macam. Sebab di ss chatan itu, tujuan ada pameran replika peninggalan Rasulullah ini dalam rangka mengedukasi masyarakat. Namun ternyata, belakangan jadi makin gaduh. Ada perbedaan pendapat – atau lebih tepatnya informasi. Banyak yang mengatakan palsu. Tapi tidak sedikit yang mengatakan itu asli.

Sebagai orang yang sejak awal merasa aneh dan bertanya-tanya, saya termasuk orang yang meragukan keasliannya.

Ada yang harus kita perjelas di sini. Sebenarnya, tugas untuk membuktikan itu asli atau tidak adalah pihak yang mengadakan (atau siapa pun yang membela). Kita, sebagai “pelanggan,” berhak bertanya-tanya, selama belum ada kepastian dari pihak pengada dengan memberikan bukti. Jangan sampai terbalik.

Pasalnya begini, sejak awal tidak ada kejelasan siapa yang mengadakan, dari lembaga mana, berasal dari negara apa mana, apakah sudah memiliki sertifikat keaslian atau tidak, jika itu koleksi pribadi, milik siapa, dan masih banyak lagi pertanyaan. Itu semuanya belum jelas.

Coba kita bandingkan dengan beberapa pameran lain yang pernah diadakan di Indonesia. Seperti pameran artefak Rasulullah di Jakarta. Nah, kalau yang ini jelas. Kalau yang di Sampang?

Jadi Apa Masalahnya?

Sebagian tokoh, ada yang sangat ngotot membela itu asli. Sebagian lagi ada yang bilang, bukan tugas kita mencari tahu apakah itu asli atau bukan. Yang penting adalah iktikad. Meski itu adalah asli tapi hati kita tidak iktikad, maka tidak ada gunanya. Sebaliknya, kalau itu palsu tapi ada iktikad, maka bisa lebih bermanfaat.

Menurut tokoh ini, jangan sampai kita mempertanyakan keaslian, sebab takut orang yang terlanjur percaya dan merasa semakin rindu kepada Rasulullah malah hambar.

Saya tidak akan berkomentar tentang ketokohan dan kealiman beliau-beliau. Saya sangat menghormati. Bagaimana pun, mereka bukan orang sembarangan.

Sebenarnya apa permasalahannya? Kenapa sebagian orang sungguh mempertanyakan keaslian benda-benda itu? Hemat saya, setidaknya ada tiga masalah.

Pertama: Masalah Keaslian Benda Itu Sendiri

Logika sederhananya begini. Saya ambil batu, lalu saya klaim itu adalah benda milik Rasulullah. Banyak yang percaya, dan saya tidak bisa meyakinkan mereka dengan memberi bukti akurat bahwa itu adalah benda peninggalan Rasulullah.

Kita sama-sama tahu, bahwa bohong itu tidak boleh. Bagaimana jika berbohong itu atas nama Rasulullah? Mari kita renungkan sejenak hadis Rasulullah:

إنَّ كَذِبًا عَلَيَّ ليسَ كَكَذِبٍ علَى أَحَدٍ، مَن كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Berbohong atas aku, tidak seperti berbohong atas orang-orang biasa. Barang siapa yang berbohong atas nama ku, maka siap-siap masuk neraka.”

Hadis ini sahih, diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari.

Qadhi Iyadh menejaskan:

وإذا كان الكذبُ ممنوعاً فى الشرع جملةً فهو على النبى عليه السلام أشد، لأن حقَّه أعظم

“Jika berbohong secara umum tidak boleh dalam syariat, maka berbohong atas Nabi Muhammad lebih parah. Sebab beliau memiliki hak yang agung.”

Kedua: Dijadikan Sumber Uang

Ketika kita tahu bahwa benda itu belum jelas keasliannya, maka bayangkan, ada banyak sekali orang yang telah mengeluarkan uang untuk pameran tidak jelas itu. Seperti yang tertera dalam promosi, biaya masuk setiap orang adalah 50.000.

Mari kita berhitung. 50.000 x 20 orang, hasilnya satu juta. Itu hanya dua puluh orang. Dari video yang ada, hampir setiap hari pameran itu sesak dengan manusia. Anggap saja satu hari ada 150 orang. Kita hitung 50.000 x 150 orang, sama dengan 7.500.000.

7.500.000 kita kalikan satu minggu. Berapa hasilnya? 52.500.000! Itu hanya satu minggu. Sudah berapa hari sejak pertama kali pameran itu ada? Jumlah ini akan terus bertambah ke depan sampai pemeran itu selesai. Bagaimana jika satu bulan? Dua bulan? Tiga bulan?

Dari modal ketidakjelasan menghasilkan puluhan juta. Siapa yang tidak ingin bisnis seperti itu? Menjual nama Rasulullah untuk kepentingan dunia.

Ketiga: Tujuan Baik, Tapi Cara Tidak Baik

Jika memang tujuannya adalah baik, seperti agar masyarakat bisa teredukasi, semakin tambah rindu kepada Rasulullah, iman bertambah, maka saya sama sekali tidak menyalahkan tujuan ini. Ini baik. Bahkan sangat baik. Tetapi sebagaimana sejarah memberi pelajaran kepada kita, tidak semua tujuan baik selalu beriringan dengan cara yang baik.

Wahabi di Arab Saudi berani membongkar makam Sahabat Rasulullah. Menurut Anda apa tujuan mereka? Apakah mereka tidak ada kerjaan sampai membongkar makam para sahabat? Tidak! Tujuan mereka baik. Yaitu menumpas kesyirikan. Tapi apakah caranya benar?

Liberal sering kita anggap sebagai penghancur Islam dari dalam. Tetapi kalau kita tanyakan dan membaca setiap kasus, tulisan, dan wawancara mereka, apakah mereka mengatakan ingin menghancurkan Islam? Sama sekali tidak. Dalam pandangan mereka, mereka malahan ingin Islam itu semakin berkembang, bisa menjadi jawaban atas segala masalah hidup dan sosial.

Terakhir, sebagai contoh, mari kita lihat salah satu penyebab terciptanya hadis maudhu’ (palsu). Dr. Mahmud ath-Thahan dalam kitabnya, Taysiru Mushtalahil-Hadits, hlm. 90 menjelaskan bahwa salah satu tujuan oran membuat hadis palsu adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Menciptakan hadis palsu tentang balasan pahala jika berbuat baik ini dan itu.

Sala sat yang terkenal adalah kasus Maysarah bin Abdu Rabih. Saat Ibnu Mahdi bertanya kepada dia, “Dari mana kamu mendapatkan hadis ‘barang siapa yang membaca ini, maka akan mendapat pahala itu’? Dia menjawab, “Aku memelasukannya (memmbuatnya sendiri), agar memotivasi orang-orang.”

Dr. Mahmud ath-Thahan berkomentar, “Mereka adalah paling jeleknya pemalsu hadis. Sebab orang-orang menerima hadis palsu mereka, karena mempercayai mereka.”

Kita lihat bersama dan bertanya bersama, apakah tujuan Maysarah jelek? Tentu tidak. Memotivasi orang-orang agar membaca bacaan tertentu, apalagi itu al-Quran, adalah tujuan baik. Tapi apakah caranya benar? Komentar Dr. Mahmud mungkin sudah bisa menjawab pertanyaan ini.

Terakhir Dari Saya

Saya tetap menghormati segenap tokoh dan ulama yang tetap bersikukuh membela. Tulisan ini hanyalah curhatan, dari pribadi saya yang hanya ingin semuanya menjadi jelas. Agar masyarakat kita bisa lebih terdidik. Tidak gampang percaya pada sesuatu yang belum jelas.

Tentu kita merasa kasihan dan prihatin, jika pameran ini ternyata tak lebih dari bisnis belaka, yang menjadi kepentingan secuil orang tidak bertanggung jawab. Wallahul-musta’an.

Salam.

Oreng Sampang se tero masyakattah lebih terdidik ben lebi kritis.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.