Hal-hal Yang Harus Kamu Ketahui Jika Kamu Belum Meng-qadai Hutang Puasa Padahal Sudah Hampir Masuk Bulan Ramadhan Lagi

Tidak terasa sekrang kita sudah masuk Bulan Rajab. Bulan ketujuh dalam Kalender Hijriyah. Menandakan bulan Ramadhan sudah hampir tiba. Dua bulan lagi kurang lebih.

Salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah bahkan sudah memutuskan kapan 1 Ramadhan 1442 H, atau Bulan Ramadhan tahun ini. Keputusan yang berdasarkan pada hisab hakiki wujudul-hilal yang menjadi pedoman Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah ini menetapkan bahwa 1 Ramadhan 1442 Hijriyah tepat pada 13 April 2021 M.

Jika kita mengitungnyua dari sekarang (13 Februari), maka Bulan Ramadhan kurang 58 hari lagi. Sudah dekat waktu kita melaksanakan ibadah rukun Islam yang keempat, yakni puasa.

Semoga Allah menakdirkan kita sampai ke Bulan Ramadhan. Amin ya rabbal-alamin.

Memang kita tidak dapat memungkiri bahwa dalam melaksanakan puasa, tidak selalu berjalan sesuai harapan. Terkadang kita harus tidak berpuasa, karena satu alasan seperti sakit atau perjalanan. Karena alasan bisnis, atau semacamnya.

Bagi muslimah, haid menjadi satu alasan pasti mereka mempunyai hutang di setiap Bulan Ramadhan.

Maka perlu kita tanyakan pada diri kita? Sudahkah kita meng-qadai hutang puasa bulan Ramadhan kemarin. Atau lebih jauh lagi, hutang puasa bulan Ramadhan sebelumnya lagi. Dan sebelumnya lagi. Sudahkah kita meng-qadai-nya?

Dua Kewajiban Jika Tidak Meng-qadai Hutang Puasa Sampai Masuk Bulan Ramadhan Berikutnya

Ada dua kewajiban jika ada seorang muslim, (bukan kamu, ya. Hehehe. Husnuzan) yang mempunyai hutang puasa sampai masuk ke Bulan Ramadhan berikutnya. Hal ini sebagaimana telah dijelaskan oleh Syekh Zakariya al-Anshari dalam kitabnya, Tuhfatuth-Thulab, hlm. 52. Berikut dua hal itu dengan sedikit penjelasannya.

Baca Juga: Salah! Quraish Shihab Tidak Mengatakan Jilbab Tidak Wajib

Pertama, dia wajib meng-qadai. Ini udah biasa lah ya. Jadi bukan berarti karena sudah masuk Bulan Ramadhan beiktunya tiba-tiba hutang puasa Bulan Puasa kemaren hilang begitu saja.

Tidak begitu, Ferguso!

Hutang puasa tetap wajib. Jumlahnya sesuai dengan jumlah hutangnya. Tidak berkurang, tidak lebih.

Kedua, ini yang super, dia harus membayar fidyah. Apa itu fidyah? Secara sederhana, kita bisa artikan fidyah adalah tebusan.

Fidyah yang wajib dia bayar adalah satu mud untuk setiap hari dia di mana dia tidak berpuasa, sebagaimana keterangan Imam Nawawi dalam kitabnya, Raudhatuth-Thalibin, juz 2, hlm. 264. Jadi jika hutang puasa dia adalah 10 hari, maka dia wajib membayar 10 mud.

Satu mud adalah salah satu takaran dalam kitab fikih. Menurut Syekh Wahbah az-Zhuhaili memberikan gambaran bahwa satu mud adalah cakupan penuh dua tangan pada umumnya. Beliau menerangkan hal ini dalam kitabnya, al-Fiqhu al-Islami wa Adilatuhu, juz 2, hlm. 910.

Untuk mengkonversikan menjadi ukuran biasa, kami kutip buku Santri Salaf Menjawab. Dalam buku itu tertulis bahwa satu mud adalah 675 gr.

Yang perlu menjadi perhatian adalah, bahwa fidyah ini wajib dia bayar apabila memag dia sama sekali tidak ada uzur untuk meng-qadai, tapi malah tidak meng-qadai-nya.

Misalkan dia mempunyai uzur, seperti lupa atau dia tidak tahu, maka tidak wajib membayar fidyah. Alias, hanya wajib meng-qadai hutang puasa.

Bagaimana Jika Lupa Jumlah Hutang?

Ini mungkin saja terjadi. Sebab tidak mencatat jumlah hutang puasa, jumlah hutang puasa yang mungkin sudah cukup banyak, lamanya jarak hutang puasa, atau tidak peduli pada jumlah hutang puasa dan menghitungnya, bisa menjadi alasan orang itu lupa pada jumlah hutang puasanya.

Lalu bagaimana solusinya?

Orang itu harus mengingat-ngingat terlebih dahulu berapa jumlah puasa yang dia tinggalkan. Hingga dia sampai pada taraf yakin, bahwa jumlah puasa yang dia tinggalkan memang segitu.

Ketika sudah ketemu dam yakin, ada dua pendapat. Dia boleh memilih salah satunya.

Pertama, harus meng-qadai puasa sesuai dengan jumlah total puasa yang ia yakini. Misalkan dia yakin hutang puasanya 10 hari, maka dia cukup meng-qadai puasa 10 hari saja. Hal ini sebagaimana tercantum dalam kitab Hasyiyatu-Turmusi, juz 4, hlm. 291.

Kedua, dia harus meng-qadai lebih dari jumlah hutang puasa yang ia yakini. Ini adalah pendapat yang kuat, menurut Imam asy-Syarqawi dalam Hasyiyatusy-Syarqawi, juz 1, hlm. 277.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *