Hukum Makan Bekicot Dalam Pandangan Ulama

  • Bagikan
Hukum Makan Bekicot Dalam Pandangan Ulama
Hukum Makan Bekicot Dalam Pandangan Ulama

Hukum Makan Bekicot Dalam Pandangan Ulama – Bekicot adalah salah satu jenis hewan yang bagi sebagian orang menjijikkan, tapi tidak bagi yang lain. Bagi mereka yang menganggap bekicot menjijikkan, maka pada akhirnya bekicot hanya menjadi hewan biasa. Bekicot tak lebih dari hewan yang biasanya kita dapati di sawah-sawah atau tempat-tempat basah.

Akan tetapi bagi mereka yang tidak merasa jijik dengan bekicot, justru bisa menjadi olahan makanan yang enak, menurut mereka (karena saya sendiri belum pernah mencobanya). Di Kediri, sate bekicot diakui sebagai makanan khas daerah tersebut.

Akan tetapi bagaimana sebenarnya hukum makan dalam pandangan ulama? Simak penjelasannya berikut ini.

Ulama bertahun-tahun yang lalu sudah membahasnya di kitab-kitab mereka. Dalam Bahasa Arab, bekicot adalah al-halazun (الْحَلَزُوْنُ).

Luar biasa buka? Sebelum ramai ada orang yang bertanya atau membahas, para ulama dari dulu sudah membahasnya dengan rinci. Hal ini menjadi sebuah kontribusi yang tak lekang oleh zaman. Akan terus abadi selama-lamanya.

Ringkasya, ulama berbeda pendapat. Ada yang mengatakan halal, dan ada yang mengatakan haram.

Makan Bekicot Menurut Imam an-Nawawi

Imam an-Nawawi dalam kitabnya, al-Majmu Syarhul-Muhadzab, juz 9 hlm. 37, mengatakan:

“Tidak halal (alias haram) memakan hewan-hewan kecil yang ada bumi. Seperti ular, kalajengking, tikus, kumbang, adza’, kecoa, laba-laba, tokek, cacing, orong-orong. Dikarenakan ada firman Allah yang berbunyi, ‘Haram bagi kalian memakan sesuatu yang menjijikan.”

Imam Kamalud-Din ad-Damiri juga sependapat dengan Imam an-Nawawi. Dalam kitabnya, Hayatul-Hayawan al-Kubra, juz 1 hlm. 337, setelah mendeskripsikan apa itu bekicot, beliau membahas hukum memakannya. Menurut beliau, haram hukumannya memakan bekicot sebab dianggap menjijikkan.

Ibnu Hazm juga sama. Beliau berpendapat haram memakan bekicot. Sebab termasuk dari hasyarat, hewan-hewan kecil. Beliau menjelaskan hukum ini dalam kitab al-Muhalla bil-Atsar, juz 6 hlm. 76.

Hukum Makan Bekicot Menurut Imam Malik

Lain imam, lain juga pendapatnya. Imam Malik, pendiri mazhab fikih Malikiyah, mempunyai pendapat yang cukup ringan. Bagi beliau, bekicot hukumnya halal, tidak haram, sebagaimana menurut pendapat ulama-ulama tadi.

Suatu ketika, ada yang bertanya kepada Imam Malik terkait hewan yang menempel di pohon. Beliau menjawab bahwa hukum memakan hewan itu sama seperti belalang. Apa hukum memakan belalang? Jelas halal. Kalu yang ini Rasulullah sendiri yang menyampaikan. Rasulullah bersabda:

أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ: أَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالسَّمَكُ وَالْجَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ

“Halal bagi kita dua bangkai dan dua darah. Yang bangkai adalah ikan dan belalang. Sedangkan yang darah adalah hati dan limpa.”

Ibnu Majah meriwayatkan hadis ini dalam Musnad-nya, nomor 3218. Selain itu, Imam Ahmad juga meriwayatkannya dalam Musnad-nya, juz 2 hlm, 97.

Akan tetapi ada perbedaan. Meski Imam Malik menyamakan bekicot dengan belalang, tidak serta merta hukumnya sama dalam segala hal.

“Jika memang bekicot itu dialambil dalam keadaan masih hidup, kemudian dimasak, maka tidak apa. Akan tetapi kalau sudah mati (menjadi bangkai), maka haram hukumnya.

Akar Perbedaan Pendapat

Dari mana perbedaan pendapat ini berasal? Sebenarnya kalau mau kita teliti, ada satu hal yang kemudian menjadi penyebab perbedaan ulama terkait hukum makan bekicot.

Hal ini bisa kita pahami dari penjelasan Imam an-Nawawi dalam kitabnya, al-Majmu Syarhul-Muhadzab, juz 10 hlm. 21.

Far’un: mengenai penapat ulama tentang hewan-hewan kecil di bumi seperti ular, kalajengking, kecoa, tikus dan sejenisnya.

Menurut mazhab kita (Syafi’iyah), hasyarat hukumnya haram. Pendapat ini juga menjadi pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Abu Daud.

Menurut Imam Malik hukumnya halal, karena firman Allah:

قُلْ لَّآ اَجِدُ فِيْ مَآ اُوْحِيَ اِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلٰى طَاعِمٍ يَّطْعَمُهٗٓ اِلَّآ اَنْ يَّكُوْنَ مَيْتَةً

“Katakanlah, “Tidak kudapati di dalam apa yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan memakannya bagi yang ingin memakannya, kecuali daging hewan yang mati (bangkai)…”

Juga hadis yang diriwayatkan oleh Sahabat Talib. Beliau berkata:

 صَحِبْتُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ فَلَمْ أَسْمَعْ لِحَشَرَةِ الأْرْضِ تَحْرِيْماً

“Selama aku bersama Rasulullah, aku tidak pernah mendengar beliau mengharamkan hasyarat (hewan kecil) di bumi.” (H.R Imam Abu Daud)

Imam an-Nawawi mengkategorikan bekicot sebagai hasyarat. Sedangkan hasyarat menurut beliau (dan mazhab Syafi’i) hukumnya haram. Pun Imam Malik memasukkan bekicot sebagai hasyarat. Akan tetapi, bagi beliau, hasyarat tidak haram sebab dalil yang beliau sampaikan.

Kesimpulan

Kesimpulannya, ulama masih berbeda pendapat tentang hukum makan bekicot. Imam an-Nawawi, Ibnu Hazm, Imam Kamalud-Din ad-Damiri, Syafi’iyah, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad, dan Imam Abu Daud hukumnya haram. Menurut Imam Malik, hukumnya boleh.

Perbedaan pendapat didasari pandangan mereka terhadap hasyarat. Bagi mereka yang menganggap hasyarat haram, maka bekicot dan hewan sejenis hukumya haram. Sedang ulama yang berpendapat hasyarat halal, maka bekicot dan sejenisnya hukumnya halal.

Baca Juga: Hal-hal Yang Harus Kamu Ketahui Jika Kamu Belum Meng-qadai Hutang Puasa Padahal Sudah Hampir Masuk Bulan Ramadhan Lagi

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.