Lima Fase Perkembangan Mazhab Syafi’i

Mazhab Syafi’i adalah mazhab yang didirikan oleh Imam Syafi’i. Beliau memiliki nama lengkap Abu Abdillah Muhammad bin Idris asy-Syafi’i al-Muththalibi al-Quraisyi. Lahir tahun 150 H. di kota Ghazah (Gaza) Palestina. Beliau adalah murid dari pendiri Mazhab kedua, Imam Malik bin Anas.

Mazhab Syafi’i adalah mazhab fikih ketiga menurut Ahlusunah wal Jamaah, setelah mazhab Maliki. Mazhab Hanafi. Rata-rata, (kalau tidak mau mengatakan semuanya) orang Indonesia bermazhab dengan mazhab ini.

Fase-Fase Mazhab Syafi’i

Di lihat dari sejarah sejak pertama kali Mazhab Syafi’i berdiri sampai masa-masa berikutnya, mazhab ini mempunyai lima fase.

Fase Pertama. Fase ini adalah fase peletakan dasar dan awal pendirian. Akhir dari fase ini adalah wafatnya Imam Syafi’i.

Kedua, fase penyebaran. Pada fase ini, murid-murid pendiri mazhab banyak memainkan peran. Mereka meneyebarkan Mazhab Syafi’i ke berbagai tempat. Salah satu kitab yang paling terkenal karangan salah satu murid Imam Syafi’i adalah Mukhtasar Muzani.

Ketiga, masa pembukuan. Maksud masa ini adalah pembukuan cabang-cabang permasalahan fikih dan pengembangan persoalan-persoalannya.

Keempat, peninjauan ulang dan pentarjihan. Hal ini langsung dibidani oleh dua imam yang pendapatnya sering bertentangan, Imam Rafi’i dan Imam Nawawi. Upaya peninjauan ulang dan pentarjihan beberapa persoalam-peroalan mazhab dapat kita lihat dari kitab-kitab mereka, seperti Al-Muharar, Syarhul-Kabir, dan Minhajuth-Thalibin.

Kelima, saat mazhab sudah masuk tahap istiqrar. Dua imam yang memberi kontribusi dalam hal ini adalah Imam Ibnu Hajar al-Haitami melalui kitabnya, Tuhfatul-Muhtaj bi Syarhil-Minhaj dan Imam Syamsudin ar-Ramli melalui kitabnya, Nihayatul-Muhtaj ila Syarhil-Minhaj. Beliau berdua melakukan peninjauan pada beberapa permasalahan yang tidak sempat terbahas oleh dua imam sebelumnya.

Pasca Lima Fase

Ketika mazhab sudah menjadi sempurna pentahkikannya oleh Imam Nawawi dan Rafi’i serta berlanjut kepada Imam Ibnu Hajar dan Imam ar-Ramli, maka ulama setelahnya, melalui kitab-kitab yang mereka tulis, sudah rida pada fatwa-fatwa mereka.

Pendapat yang menjadi kesepakatan Imam Nawawi dan Imam Rafi’i adalah pendapat yang muktamad. Jika berbeda pendapat, maka ulama lebih mengunggulkan pendapat Imam Nawawi. Tapi masih boleh ikut pada keduanya.

Kemudian jika Imam Ibnu Hajar dan Imam ar-Ramli satu suara pada permasalahan-permasalahan yang tidak terbahas oleh dua imam sebelumnya, maka itu adalah pendapat yang muktamad. Namun jika berbeda pendapat, maka ulama Hijaz dan Hadramaut mengunggulkan pendapat Imam Ibnu Hajar, sedangkan ulama Syam dan Mesir mengunggulkan pendapat Imam ar-Ramli

Sumber: Siyaru A’lamin Nubala ,juz 8, hlm. 236. dan at-Taqrirat as-Sadidah, hlm. 38-39

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *