Masih Ragu Sama Vaksin? Berikut Sebenarnya Hukum Vaksin

“Bagaimana hukum vaksin?” Pertanyaan yang bagi seorang muslim harus terjawab karena mereka tertuntut untuk meneliti semua hal yang melekat pada diri mereka. Baik luar seperti pakaian, atau dalam seperti makanan dan minuman.

Memang setelah banyak korban berjatuhan karena Covid-19, banyak negara yang berusaha menyediakan vaksin untuk rakyatnya. Tak ketinggalan di Indonesia juga.

Kemarin, Rabu (13/1/2021) pagi Pak Jokowi menjadi orang pertama yang mendapat suntikan vaksin. Selain Pak Jokowi, beberapa artis dan tokoh juga ikut divaksin, seperti Rafi Ahmad.

Namun, sepertinya usaha Pak Jokowi memberikan contoh kepada rakyat Indonesia agar mau menerima vaksin belum sukses sepenuhnya. Banyak yang masih ragu dengan keamanan dan kehalalan vaksin covid ini. Di beberapa tempat, bahkan menjadi topik yang cukup heboh. Ada yang sampai mengaitkannya dengan politik juga. Hedueeeehhh.

Ok, mari kita ke fokus utama pembahasan tulisan ini. Bagaimana sebenarnya hukum vaksin Covid-19 produksi Sinovac dan Biofarma? Halal atau tidak?

Hukum Vaksin Menurut MUI

Sebagai salah satu organisasi yang menjadi referensi sebagian orang, MUI (Majelis Ulama Indonesia) ikut andil dalam meneliti dan memberikan fatwa terkait vaksin.

Pada Jumat tanggal 8 Januari kemarin, MUI menggelar rapat secara tertutup di Hotel Sultan Jakarta. Hasilnya, MUI menetapkan bahwa vaksin itu halal.

MUI tidak langsung mengeluarkan fatwa secara utuh. Karena masih menunggu keputusan dari Badan Pengawas Makanan dan Obat (BPOM) RI tentang keamanan (safety), mutu (quality), serta kemanjuran (efficacy) vaksin. Jadi terkait kebolehan penggunaan, MUI sempat menunggu BPOM.

Fatwa Utuh MUI Tentang Vaksin dan Dalilnya (Wajib Baca!)

Lalu beberapa hari kemudian, melalui dokumen nomor 02 tahun 2021 setebal delapan halaman, MUI menerbitkan secara resmi fatwa halal vaksin Covid-19 produksi Sinovac dan Biofarma.

Jika kita lihat dalil-dalil yang tercantum dalam dokumen itu, memang MUI mengakui bahwa tidak boleh berobat dengan benda najis. Sebagaimana pendapat Imam az-Zuhri dalam kitab Syarah Sahih Bukhari, juz 6, hlm. 70.

Tetapi benda yang masih belum status najisnya, tidak dapat berhukum najis. Hal-hal yang masih belum sampai taraf yakin benda itu adalah najis, maka tidak berhukum najis, sebagaimana penjelasan Imam Nawawi dalam kitabnya, Raudhatut-Thalibin, juz 1, hlm. 37.

Baca juga: “Allah Ada Di Mana-mana”; Hukum Mengucapkannya

Untuk masalah proses, bahan utama vaksin, dan alat yang digunakan dalam proses pembuatan vaksin, MUI menjelaskan dengan detail pada halaman 6 dan 7. Intinya, antara lain, proses vaksin tidak mengandung bahan daging babi dan daging manusia. Ada sedikit campuran barang najis mutawasithah, tapi sudah melalui penyucian sesuai ketentuan secara syar’i, dan alat produksi vaksin suci.

Tentang keamanan, dengan berlandaskan keputusan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI yang telah memberikan persetujuan penggunaan darurat (UEA) dan jaminan keamanan (safety), mutu (quality), serta kemanjuran (efficacy) bagi vaksin, MUI menggolongkan vaksin sudah memenuhi kualifikasi thayyib.

Namun yang paling inti untuk kita ketahui sebenarnya ada pada halaman terakhir (karena untuk pemahaman dalil dari al-Quran, hadis dan perkataan ulama serta kaitannya dengan proses dan bahan, kita pasrahkan pada para alim yang ada di MUI. Kita tinggal melihat dan menerima hasilnya).

Akan kami kutip dengan lengkap isi keputusan MUI pada poin kedua, yakni Ketentuan Hukum:

  1. Vaksin Covid-19 produksi Sinovac Life Siences Co. Ltd. China dan PT. Bio Farma (Persero) hukumnya suci dan halal. (Sekali lagi, suci dan halal)
  2. Vaksin Vaksin Covid-19 produksi Sinovac Life Siences Co. Ltd. China dan PT. Bio Farma (Persero) sebagaimana angka 1 boleh digunakan umat Islam sepanjang terjamin kemanannya menurut ahli yang kredibel dan kompeten.

Dokumen itu ditandatangani oleh Ketua Komisi Fatwa MI, Prof. Dr. H. Hasanudin AF, MA dan Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Miftahul Huda Lc.

Kalau mau tau lengkap isi dokumen fatwa silahkan klik di sini.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *