Menjawab Semua Pertanyaan Tentang Nikah Siri

Nikah siri mungkin menjadi istilah yang cukup sering kita dengar. Bagi kamu mungkin ada beberapa pertanyaan yang ingin kamu ketahui tentang nikah siri, tapi belum menemukan jawabannya.

Kami berusaha mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan tentang nikah siri, dan dengan melihat kembali kitab-kitab, kami berusaha menjawabnya. Berikut pertanyaan dan jawaban itu.

Apa itu Nikah Siri?

Tentang apa itu nikah siri bisa kita lihat di KBBi. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) nikah siri adalah pernikahan yang hanya disaksikan oleh seorang modin dan saksi, tidak melalui Kantor Urusan Agama. Definisi ini secara sederhana, sudah bisa kita katakan menggambarkan dengan jelas.

Bagaimana Nikah Siri Menurut Agama Islam?

Dalam kitab ulama salaf, kita tidak bisa menemui istilah nikah ini. Yang ada hanya definisi nikah pada umumnya.

Sebelum kita bahas bagaimana hukum nikah siri, mari kita lihat terlebih dahulu definisi nikah menurut Islam. Nikah menurut syara adalah:

ِعِبَارَةٌ عَنِ الْعَقْدِ الْمَشْهٌوْرِ الْمُشْتَمِلِ عَلَى الْاَرْكَانِ وَالشُّرُوْط

“Nikah adalah satu akad yang masyhur serta memenuhi rukun dan syaratnya”(1)

Dalam mazhab Syafi’i, rukun atau syarat nikah ada lima. Suami, istri, wali, dan dua wali.(2) Masing-masing dari lima syarat ini punya syarat lagi. Untuk yang ini mungkin kapan-kapan kami bahas di satu tulisan khusus.

Lah, apa yang menjadi inti dari penunjukan definisi nikah menurut syara berikut syarat-syaratnya? Maksudnya adalah, dalam mazhab Syafi’i, jika nikah sudah sesuai dengan syarat yang telah menjadi ketetapan syariat, ada suami, istri, dua saksi, wali, dan sighat, maka sudah cukup dan sah. Syariat tidak memberi syarat nikah harus melalui KUA. Cukup memenuhi syarat, nikah sudah sah.

Kalau Menurut Negara?

Ini dia yang menjadi persoalan. Nikah semacam ini tidak menjadi anjuran MUI (Majelis Ulama Indonesia). Sebab tidak punya landasan hukum negara sehingga rentan menimbulkan percekcokan. Sering kali yang mendapat dampak negatif adalah istri dan anak.

Saat istri atau anak menuntut hak-hak mereka, maka negara tidak bisa menjadi penengah atau membantu. Karena pernikannya tidak memiliki kekuatan hukum. Hak-hak seperti nafkah dan warisan, tidak bisa negara ikut campur.

“MUI mengimbau masyarakat agar menikah secara resmi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,” jelas Zainut Tauhid Saadi, Wakil Ketua Umum MUI waktu itu, sebagaimana dilansir oleh Antara.

Apakah Boleh Hamil?

Jawaban dari pertanyaan ini hasrusnya sudah jela dengan terjawabnya pertanyaan kedua. Proses terjadinya hamil, sebagaimana maklum, melalui hubungan suami istri. Jadi yang menjadi fokus sebenarnya bagaimana hukum hubungan istri dalam nikah siri. Meski tidak hamil, jika hubungan suami istri dalam nikah siri haram, misalnya, maka tetap haram.

Tadi telah kami jelaskan, bahwa nikah ini secara agama sah. Sebab agama tidak menuntut sahnya pernikahan harus melewati KUA. Dengan memenuhi rukun dan syarat, nikah sudah bisa kita katakan sah.

Jika pernikahan sah, maka sudah tentu boleh dan halal melakukan hubungan suami istri. Termasuk model nikah yang tidak melalui KUA ini.

Harus Ada Wali Atau Tidak?

Jelas harus ada, jika mempelai menggunakan akad ala mazhab Syafi’i. Dalam mazhab Syafi’i nikah memelukan syarat dan rukun sebagaimana yang telah kami uraikan.

Ingat, kita sekarang bicara dalam konteks mazhab Syafi’i, bukan mazhab lain. Sebab, dari empat mazhab fikih yang diakui oleh ulama Ahlusunah wal Jamaah, ada yang memperbolehkan tanpa wali.

Misalkan Nikah Siri Online Bejimane?

Tidak bisa. Sebab, syaratnya wali dan mempelai laki-laki harus hadir dalam satu tempat dan saksi melihat pengucapan akad nikah oleh mempelai laki-laki. (3)

Menurut Dr. Ali Jumah, singhat atau akad melewati telpon adalah kinayah. Maka sah hukumnya akad jual jual beli (dan semacamnya seperti akad salam dan sewa) lewat telpon. Tetapi tidak dalam nikah. Kenapa? Sebab akad nikah harus dilafazkan dengan sarih, tidak boleh kinayah.(4)

Demikian jawaban kami atas pertanyaan-pertanyaan tentang nikah siri. Mungkin tidak menjawab semuanya, tapi semoga cukup menjawab beberapa pertanyaan kamu.

Catatan Kaki

(1) Kifayatul-Akhair, hlm. 460, (2) Nihayatuz-Zain, hlm. 348, (3) Kifayatul-Akhyar, juz 2, hlm. 51 dan Hasyiyatul-Bujairimi Alal-Khatib, juz 10, hlm. 149, (4) Al-Bayan, hlm. 359

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *