Mutah Syiah dan Hukum Nikah Mutah

Apa Itu Nikah Mutah?

Syekh Zainudin al-Malibari dalam kitabnya, Fathul-Mu’in mengatakan:

وَهُوَ الْمُؤَقَّتُ وَلَوْ بِأَلْفِ سَنَةٍ

“Nikah mutah adalah nikah yang memiliki batas waktu, walau pun batas waktu itu seribu tahun.”(1)

Mungkin, dalam bahasa yang lebih mudah dan familiar, dalam konteks keindonesiaan, kita mengenal nikah mutah dengan sebutan kawin kontrak. Memang definisi ini adalah definisi yang paling banyak kita dengar dan juga menjadi pendapat jumhurul-ulama (mayoritas ulama). Tetapi ada salah satu sahabat masyhur yang mendefinisikan nikah mutah tidak sama dengan jumhur. Syekh Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi mengatakan:

وَأَمَّا عِنْدَ ابْنِ عَبَّاسٍ فَهُوَ الْخَالِيْ مِنَ الْوَلِيِّ وَالشُّهُوْدِ

“Nikah mutah menurut Abdullah bin Abbas adalah nikah tanpa wali dan saksi.”(2)

Nikah mutah diberi nama nikah mutah (yang dalam bahasa Arab berarti “kesenagan”) karena tujuannya hanyalah ingin bersenang-senang, bukan ingin memilki anak atau mewariskan. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Nawawi al-Jawi al-Bantani dalam kitabnya, Nihayatuz-Zain.(3)

Sejarah (Hukum) Nikah Mutah

Dalam sejarah Islam, nikah mutah pernah diperbolehkan oleh Rasulullah. Untuk lebih lengkapnya, bisa di baca di sini.

Hukum Nikah Mutah (Kawin Kontrak)

Ulama bersepakat bahwa nikah mutah hukumnya haram. Imam al-Bukhari meriwayatkan satu hadis dari Sayidina Ali:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ مُتْعَةِ النِّسَاءِ يَوْمَ خَيْبَرَ وَعَنْ أَكْلِ لُحُومِ الْحُمُرِ الْإِنْسِيَّةِ

“Pada saat perang Khaibar, Rasulullah melarang menikahi perempuan dengan nikah mutah dan memakan daging keledai liar.”

Syekh Mula Ali al-Qari dalam kitabnya, Umdatul-Qari Syarh Sahihهl-Bukhari menjelaskan:

تَقَرَّرَ الْإِجْمَاعُ عَلَى مَنْعِهِ وَلَمْ يُخَالِفْ فِيْهِ إِلاَّ طَائِفَةٌ مِنَ الْمُبْتَدِعَةِ

“Sudah menjadi kesepakatan ulama bahwa nikah mutah dilarang. Dan tidak ada yang berbeda penapat dalam hal ini kecuali sekelompok orang ahli bidah.”(4)

Secara lebih gamblang dan jelas Imam Nawawi dalam kitabnya, al-Majmu’ fi Syarhil-Muhazab mengatakan:

وَلاَ أَعْلَمُ الْيَوْمَ أَحَداً يُجِيْزُهَا إِلاَّ بَعْضَ الرَّافِضَةِ

“Aku tidak tahu satu orang pun yang menghalalkan nikah mutah, kecuali sebagian Syiah Rafidah.”(5)

Namun, ada yang perlu dipahami ketika kita membahas nikah mutah sebagaimana banyak tertera dalam kitab fikih. Nikah mutah itu haram, jika memang kontrak waktu atau batas waktu pernikahan disebutkan di dalam akad. Jika kontrak batas waktu penikahan itu disepakati sebelum akad, kemudian melakukan akad sebagaimana umumnya dilakukan, maka hukumnya tidak haram. Hanya sekadar makruh. Hal ini disamakan dengan hukum nikahnya muhalil. Untuk pembahsan lebih panjang tentang muhalil, bisa dibaca di sini.

Syekh Sulaiman al-Bujairimi dalam kitabnya, Tuhfatul-Habib Ala Syarhil-Khatib menjelaskan:

وَمَحَلُّ عَدَمِ صِحَّةِ التَّأْقِيْتِ إِذَا وَقَعَ فِيْ صُلْبِ الْعَقْدِ، أَمَّا إِذَا تَوَافَقَا عَلَيْهِ قَبْلُ وَتَرَكَاهُ فِيْهِ فَإِنَّهُ لاَ يُضِرُّ، لَكِنْ يَنْبَغِيْ كَرَاهَتُهُ أَخْذاً مِنْ نَظِيْرِهِ فِيْ الْمُحَلِّلِ

“Letak ketidaksahan (yang berakibat menjadi haram) nikah yang diberi batas waktu (nikah mutah), apabila batas waktu itu terjadi atau disebutkan ketika akad. Jika batas waktu itu sudah disepakati oleh kedua belah pihak sebelum akad, kemudian mereka tidak menyebutkannya ketika akad, maka ini tidak apa-apa. Akan tetapi, hukumnya makruh. Karena disamakan dengan nikahnya muhalil.”(6)

Konsekuensi Nikah Mutah

Karena nikah mutah ini tidah sah, maka bagi siapa pun yang melakukannya akan mendapatkan beberapa kosnkuesi yang harus dia lakukan. Ada tiga hal yang menjadi konsekuensi ketidaksahan mutah ini. (7)

Pertama, pihak laki-laki harus memberi mahar mitsil kepada wanita yang telah dia nikahi mutah. Mahar mitsil adalah harga atau nominal mahar secara umum. Jika dia masih perawan, maka mahar mitsil-nya melihat mahar perawan secara umum. Begitu juga jika dia sudah janda. Pihak laki-laki tidak wajib memberikan mahar yang sudah dia sebutkan dalam akad. Contoh sederhana: jika dalam akad suami menyebut jumlah mahar satu juta, maka dia tidak wajib membayar nominal itu. Nominal yang harus dibayar tetap meninjau harga mahar secara umum. Dengan ini, bisa jadi nominal harga mahar mitsil itu bisa lebih sedikit, sama, atau bahkan lebih banyak dari nominal mahar yang telah dia sebutkan di akad.

Kedua, nasab anak yang dikandung oleh si perempuan (andaikan hamil) tetap bersambung pada pihak laki-laki, ayah biologis dia. Kenapa demikian? Karena biasanya anak yang dihasilkakan dari hubungan intim yang tidak sah, nasabnya tidak bersambung pada ayahnya. Seperti dalam kasus zina. Anak yang dihasilkan dari hubungan zina, dalam mazhab Syafi’i, nasabnya tidak berambung pada ayah biologisnya. Lebih panjang tentang hal ini bisa di baca di sini.

Ketiga, si perempuan wajib menjalani iddah. Syekh Muhamad az-Zuhri dalam as-Siraju al-Wahaju menjelaskan:

وَهِيَ فِيْ الشَّرْعِ اِسْمٌ لِمُدَّةٍ تَتَرَبَّصُ فِيْهَا الْمَرْأَةُ لِمَعْرِفَةِ بَرَاءَةِ رَحْمِهَا أَوْ لِتَفَجُّعِهَا عَلَى زَوْجِهَا أَوْ لِلتَّعَبُّدِ

Iddah dalam syara adalah masa penantian wanita (setelah dia pisah dari suaminya)  untuk mengetahui bersihnya rahim dia, atau karena kesedihan dia atas suaminya, atau memang murni ta’abudi.”(8)

Mutah Syiah

Sebagaimana yang telah kami jelaskan tadi, ada sebagian kelompok yang menghalalkan nikah mutah atau kawin kontrak. Berikut akan kami tampilkan beberapa pandangan ulama Syiah tentang nikah mutah:

Sunah Nikah Mutah dengan Wanita Afifah

Ayatullah Khumaini dalan kitabnya, Tahrirul-Wasilah, mengatakan sunah melaksanakan nikah mutah dengan wanita afifah (terjaga dari dosa). Tidak mengurus, apakah si wanita sudah punya suami atau tidak.(9)

Boleh Nikah Mutah dengan Pelacur

Masih dalam kitab yang sama, Khumaini juga menjelaskan bahwa boleh menikah dengan placur, meski makruh.(10)

Boleh Nikah dengan Wanita Bersuami

Kali ini giliran Nuri ath-Thabarasi yang memberi pendapat tentang nikah mutah. Dia mengatakan dalam kitabnya, Mustadrakul-Wasail, bahwa sesorang boleh menikahi mutah wanita yang masih berstatus istri orang, asal dia memang mengaku tidak punya suami.(11)

Pahala Nikah Mutah Besar Sekali

Nuri ath-Thabarasi dalam Mustadrakul-Wasail  juga menjelaskan, bahwa pahala nikah mutah besar sekali, yaitu diampuni dosa orang yang melakukan nikah mutah, sebanyak helai bulu yang ada di tubuhnya.(12)

Melakukan Mutah Sama Dengan Ziarah Kakbah Tujuh Puluh Kali

Dalam Risalatul-Mutah, al-Majlisi menejalaskan bahwa Rasulullah pernah bersabda:

مَنْ تَمَتَّعَ مِنْ امْرَأَةٍ مُؤْمِنَةٍ فَكأنَّهُ زَارَ الكَعبَةَ سَبعِينَ مَرَّةً

“Barang siapa yang menikahi mutah wanita, maka dia sama seperti ziarah ke Kakbah sebanyak tujuh puluh kali.”(13)

Mengingkari Mutah Berarti Murtad dan Kafir

Al-Kasyani dalam Manhajus-Sadikin mengutip Abu Abdillah, dia berkata:

وَمُنْكِرُ المُتْعَةِ كاَفِرٌ مُرْتَدٌّ

“Orang yang mengingkari mutah itu kafir dan murtad.”(14)

Catatan Kaki

(1) Fathul-Mu’in, juz 3, hlm. 321

(2) Hasyiyatu I’anatith-Thalibin, juz 3, hlm. 322

(3) Nihayatuz-Zain, juz 1, hlm. 301

(4) Umdatul-Qari Syarh Sahihul-Bukhari, juz 17, hlm. 246

(5) Al-Majmu’ fi Syarhil-Muhazab, juz 16, hlm. 254

(6) Tuhfatul-Habib Ala Syarhil-Khatib, juz 4, hlm. 136

(7) Hasyiyatu I’anatith-Thalibin, juz 3, hlm. 255

(8) as-Siraju al-Wahaju, hlm. 448

(9) Tahrirul-Wasilah, juz 2, hlm. 292

(10) Tahrirul-Wasilah, juz 2, hlm. 292

(11) Mustadrakul-Wasail , hlm. 485

(12) Mustadrakul-Wasail , hlm. 452

(13) Risalatul-Mutah, hlm. 16

(14) Manhajus-Sadikin, hlm. 356

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *