Syair Sayidina Ali: Nafsu Menangis

Syair dan Terjemahan

النَفسُ تَبكي عَلى الدُنيا وَقَد عَلِمَت # إِنَّ السَلامَةَ فيها تَركُ ما فيها

Hawa nafsu menangis pada dunia. Ia tahu bahwa cara selamat di dalam dunia, hanya dengan meninggalkan apa-apa di dalamnya.

لا دارَ لِلمَرءِ بَعدَ المَوتِ يَسكُنُها # إِلّا الَّتي كانَ قَبلَ المَوتِ بانيها

Setelah orang itu meninggal, dia tidak punya rumah, kecuali rumah yang ia bangun sendiri sebelum ia mati.

فَإِن بَناها بِخَيرٍ طابَ مَسكَنُها # وَإِن بَناها بَشَرٍّ خابَ بانيها

Jika dia bisa membangun dengan baik rumah itu, maka rumah itu akan indah. Sebaliknya, jika dia bangun rumah itu dengan jelek, dia akan merugi.

أَينَ المُلوكُ الَّتي كانَت مُسَلطَنَةً # حَتّى سَقاها بِكَأسِ المَوتِ ساقيها

Mana raja yang dahulu berkuasa hingga dia disuguhi minuman kematian?

أَموالُنا لِذَوي الميراثِ نَجمَعُها # وَدورُنا لِخرابِ الدَهرِ نَبنيها

Harta yang kita kumpulkan semata-mata untuk ahli waris dan rumah-rumah kita, akan hancur dengan sendiri dengan berjalannya waktu.

كَم مِن مَدائِنَ في الآفاقِ قَد بُنِيَت # أًمسَت خَراباً وَدانَ المَوتُ دانيها

Betapa banyak kota yang dibangun di atas muka bumi ini akan hancur, pun penduduknya.

لِكُلِّ نَفسٍ وَإِن كانَت عَلى وَجَلٍ # مِنَ المَنيَّةِ آمالٌ تُقَوّيها

Meski nafsu takut menghadapi kematian, angan-angan selalu menguatkannya.

فَالمَرءُ يَبسُطُها وَالدَهرُ يَقبُضُها#  وَالنَفسُ تَنشُرُها وَالمَوتُ يَطويها

Orang-orang berusaha melapangkan nafsu, tapi masa mencengkramnya. Nafsu berusaha bebas, tapi kematian siap melipatnya.

Kisah di Balik Syair Ini

Ada kisah menarik di balik syair Sayidina Ali ini. Suatu ketika, ada seorang laki-laki mendatangi Sayidina Ali untuk menulis akad pembelian rumah itu. Lalu Sayidina Ali melihat lelaki itu dan menyadari suatu hal; dalam hati si lelaki, tertanam dengan subur kecintaan pada dunia.

Sayidina Ali kemudian menulis surat kepada dia:

“Ada seorang mayat membeli rumah dari mayat lain di kompleks para pendosa. Rumah itu punya batas. Batas pertama mengantarkan kepada kematian. Batas kedua ke kuburan. Ketiga menuju hisab. Dan keempat menuju penentuan surga atau neraka.”

Laki-laki itu keheranan dan bertanya kepada Sayidina Ali:

“Apa ini, wahai Ali? Aku datang kepada mu untuk menuliskan ku akad rumah, tapi kamu malah menuliskan ku akan maqbarah

 Mendengar hal itu, Sayidina Ali langsung melantunkan syair di atas.

Sumber: Kitab Nuzhatul-Muttaqin

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *