Teori Evolusi Menurut al-Quran; Sebuah Harapan

  • Bagikan
Teori Evolusi Menurut al-Quran; Sebuah Harapan
Teori Evolusi Menurut al-Quran; Sebuah Harapan

Teori Evolusi Menurut al-Quran; Sebuah Harapan – Dari beberapa teman (sesama santri) yang saya tanya tentang teori evolusi, semuanya menjawab tidak percaya dan menganggap teori ini salah. Ketika saya tanya apa yang menjadi dasar sikap mereka, mereka geleng-geleng kepala. Ada yang langsung nyeletuk, “Ada di al-Qur’an,” tapi saat saya kejar, “Al-Quran bagian mana? Surat apa? Juz dan ayat berapa?” mereka tidak mampu menjawab dengan akurat. “Ya ada” kata mereka. Sebuah ungkapan singkat penuh kepasrahan dan tidak ada muatan pertanggungjawaban sama sekali.

Mungkin mereka (dan saya sebenarnya) masih merasa aneh dengan teori evolusi. Mereka hanya mendengar bahwa teori evolusi beranggapan nenek moyang umat manusia adalah kera, dan meringis untuk mengakuinya. Akibatnya, ada semacam rasa tidak terima yang berujung menyalahkan tanpa dasar pada teori evolusi. Hampir semua teman yang saya tanya bagaimana definisi sebenarnya teori evolusi, mereka tidak bisa menjawab.

Sebelum membahas lebih jauh (teori evolusi menurut al-Quran), harus saya ingatkan bahwa semua kata evolusi dalam tulisan ini tidak murni bebas dari Tuhan dan kepercayaan dasar dalam agama Islam. Jika kemudian teori evolusi lepas dari Tuhan sama sekali, dan bertentangan dengan keyakinan dasar dalam agama Islam (seperti Nabi Adam adalah abul-basyar, bapak umat manusia), sudah jelas kita bisa langsung menyalahkannya.

Jadi tema evolusi yang akan saya angkat dalam tulisan ini kurang lebih sebagaimana tgergambar dalam perkataan salah satu guru saya ketia berbicara evolusi, “Saya percaya teori evolusi, tanpa menafikan Nabi Adam sebagai abul-basyar,” dan ungkapan Syekh Abdurahman Habanakah nanti.

Problem Dasar Saat Berbicara Teori Evolusi Menurut al-Quran

Sebenarnya mau menyalahkan atau tidak, itu kembali kepada bagaima penelitian membawa teman-teman saya (dan orang lain tentunya). Yang menjadi masalah paling mendasar adalah bahwa meraka berani menyalahakan sesuatu yang bahkan secuil pun belum mereka pahami dengan baik.

Ada juga yang bahkan mengait-ngaitkannya dengan al-Quran. Pada sikap ini, yang membenarkan dan menyalahkan sama saja. Alias, kalau ada yang menerima atau menolak teori evolusi dengan mengait-ngaitkannya kepada al-Quran, maka ini adalah sikap yang bisa kita anggap terlalu berani. Selama mereka tidak menampilkan ayat yang mana, bukankan itu sama saja?

Konsep Universal Syekh Asyraf Ali at-Tahanawi dan Imam Fakhrud-Din ar-Razi

Salah satu konsep yang menjadi rujukan saat berdebat dengan mereka yang mempunyai pandangan “bebas” adalah konsep yang Syekh Asyraf Ali at-Tahanawi (hidup pada abad 20) jelaskan dalam kitabnya, al-Intibahat al-Mufidah fil-Isytibahat al-Jadidah (versi Inggris “Answer to Modernism”). Kaidah pertama dalam kitab itu berbunyi:

“Ketidakpahaman kepada sesuatu, tidak menunjukkan sesuatu itu tidak ada.”

Syekh Ali Asyraf at-Tahanawi menjelaskan panjang lebar kaidah ini dan juga memberi contoh. Orang-orang yang berada di pedalaman hutan dan tidak tahu “dunia” selain yang ada di sekitar mereka mungkin tidak akan percaya kalau ada kereta yang bisa berjalan dan mengangkut barang tanpa ditarik oleh hewan. Tapi ketidaktahuan mereka tidak lantas menunjukkan kereta api itu tidak ada.

Ini juga berlaku bagi meraka yang mengingkari akhirat. Hanya karena mereka tidak pernah melihat akhirat, tidak berarti akhirat tidak ada. Seluas apa ilmu yang tersimpan dalam otak manusia sampai menafikan hal yang tidak mereka lihat atau ketahui? Ego, bisa kita katkan.

Hampir sama dengan konsep tadi, Imam Fakhrud-Din ar-Razi (hidup pada abad 12) dalam kitabnya, Tafsir ar-Razi, mengatakan:

“Hakikat jiwa tidak kita ketahui. Tapi, hanya karena kita tidak tahu hakikat sesuatu, bukan berarti sesuatu itu tidak ada.”

Konsep ini beliau sebutkan sebagai tameng dan jaga-jaga takutnya ada yang tidak mempercayai adanya jiwa hanya karena dia tidak mengetahui bagaimana dan apa hakikat jiwa. (Beberapa abad kemudian, seorang sejarawan atheis asal Israel, Yuval Harari, tidak mau percaya kepada jiwa hanya karena keberadannya tidak – atau setidaknya belum – bisa sains buktikan)

Sebagai satu konsep dasar dalam memahami sesuatu, apa yang sudah dua ulama ini jelaskan mestinya berlaku universal. Tidak hanya kepada mereka yang mengingkari akhirat atau jiwa.

Jika kita kaitkan dengan tema yang sedang saya bahas, maka, berdasarkan konsep dasar yang telah kami jelaskan, saya ingin berteriak di hadapan mereka yang tak tahu tapi menyalahkan, “Hanya karena kamu tidak mengerti bagaimana sebenarnya konsep teori evolusi dan merasa keberatan, tidak berarti teori evolusi itu tidak ada atau, paling tidak, sepenuhnya salah.”

Teori Evolusi Menurut al-Quran

Apakah ada nash (al-Quran dan hadis) sarih (jelas dan tegas) yang mengingkari teori evolusi? Tidak ada. Hal itu dijelaskan oleh salah satu guru Dr. Said Ramadhan al-Buthi, Syekh Abdurahman Habanakah dalam kitabnya, Kawasyifuz-Zuyuf. Beliau menjelaskan bahwa selama teori evolusi itu dikaitkan dengan penciptaan Allah, maka tidak ada satu pun nash yang menentangnya.

Perkataan Syekh Abdurahman Habanakah ini kurang lebih sama dengan pendapat Dr. Quraish Shihab. Dengan menggunakan penyaman pada abjad alfabet. Kata Dr. Quraish Shihab, tentang penciptaan manusia, al-Quran hanya berbicara A lalu langsung ke Z. Al-Quran tidak membahas dengan rinci bagaimana dan apa yang terjadi di antara keduanya. Hal ini beliau sampaikan di kanal Youtube purtinya, Najwa Shihab.

Jika ada yang berani mengaitkan teori evolusi dengan al-Quran, kita bisa bertanya, “Bagaiamana cara kamu memastikan bahwa ayat yang kamu baca itu menolak/menerima teori evolusi? Apakah ada landasan kuat? Kalau tidak, bagaimana mungkin kamu sangat berani mengaitkan-ngaitkannya?”

Tidak Menyalahkan, Juga Belum Membenarkan

Baik, sebagaimana pesan yang ingin saya sampaikan bahwa dalam menerima dan menolak apa pun, termasuk teori evolusi, harus memiliki landasan, maka saya yang belum banyak tahu tentang teori evolusi masih belum berani menentukan sikap.

Tidak harus ada dikotomi sikap yang berlaku secara otomatis; kalau saya tidak menyalahkan, itu tidak tidak berarti saya langsung membenarkan.

Dalam tradisi pesantren, sikap semacam ini sangat biasa. Tidak ada yang aneh. Kami menyebut sikap ini dengan istilah “mauquf”. Secara harfiah, “mauquf” berarti berhenti. Sedang dalam pemakaian istilah, “mauquf” berarti sikap tidak mau menentukan kecendrungan karena belum mengetahui yang sebenarnya.

Namun, ada dua hal yang perlu saya sampaikan terkait sikap mauquf ini.

Pertama, bahwa sikap mauquf kepada teori evolusi tetap atas dasar keyakinan bahwa teori evolusi yang sedang kita bahas tidak menafikan Nabi Adam sebagai nenek moyang umat manusia dan bahwa bagaimana pun transformasi yang terjadi, sebagaimana yang biasa dijelaskan dalam teori evolusi, tidak lepas dari penciptaan dan takdir Allah.

Seperti halnya kita tahu dan sepakat bahwa transfrormasi manusia dari sperma menjadi tubuh bertulang dan berdaging itu tidak lepas dari penciptaan dan takdir Allah, teori evolusi yang sedang kita bicarakan, apapun bentuk transformasi yang terjadi di dalamnya juga tidak lepas dari penciptaan dan takdir Allah.

Selama hal itu tidak mustahil secara akal (sebagaimana yang kita kenal dalam diskursus ilmu kalam) bagi Allah, maka transformasi ekstrim sekali pun bisa (jaiz) terjadi. Dalam sejarah, beberapa umat para nabi terdahulu ada yang dikutuk berubah bentuk. Dari manusia menjadi hewan. Bani Israil, misalnya, dikutuk oleh Allah menjadi kera.

Sekali lagi, jika teori evolusi itu malah mentiadakan campur tangan Allah dan tidak menganggap Nabi Adam sebagai nenek moyang, maka jelasa saya tidak mau. Sebab, dalam hal ideologi, saya juga punya konsep sendiri dalam menerima dan meyakini.

Kedua, sikap ini lahir bukan karena saya tidak tahu dan tidak pernah membaca referensi baik dari ulama atau ilmuan yang menyalahkan atau membenarkan. Syekh Ali ash-Shabuni dan Dr. Said Ramadhan al-Buthi menyalahkan teori evolusi. Sedangkan bapak ilmu sosiologi, Imam Ibnu Khaldun, menurut Dr. Quraish Shihab, membenarkannya. (Para pembaca, tolong jangan bayangkan saya akan mengutip pendapat atau sekadar menyebut nama ilmuan bodong Harun Yahya).

Sebuah Harapan

Masih ada beberapa hal yang perlu diperjelas. Misal, bagaimana cara kita menjelaskan dengan rinci penggabungan antara teori evolusi dan fakta dalam Islam bawah Nabi Adam adalah nenek moyang umat manusia? Mungkin nanti kita masih berdebat, apakah sebelum Nabi Adam ada makhluk lain yang menempati Bumi?

Boleh jadi, saat kita atau siapa pun ilmuan muslim yang bisa menjawab pertanyaan tadi dengan dilengkapi bukti-bukti kuat yang mendukung, muncul teori evolusi yang sama sekali berbeda dengan teori evolusi yang sudah sering kita dengar.

Tentu hal ini mungkin rada janggal, tetapi apakah mustahil menggabungkannya?

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *